CaeLeaCeaR

~Cerita bahagia saat kita bersama dan duka saat kita berpisah~
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

Kejujuran Selalu Jauh Lebih Baik Daripada Kebohongan


-KEJUJURAN SELALU JAUH LEBIH BAIK DARIPADA KEBOHONGAN-

Hari pertama di sekolah yang baru adalah salah satu hal yang membuat Kya Moll berdebar-debar. Saat memasuki kelas, Kya hanya bisa diam mematung melihat suasana kelas yang bergerombol seakan tak ingin dipisahkan. Kebisingan yang membuatnya kesepian dihancurkan oleh sapaan seseorang, dia adalah Rose. Di lihat dari penampilannya dia terlihat sangat berpengaruh di kelas, Rose gadis manis berambut pendek sebatas pundak dengan warna pirang menghiasi rambutnya. Orang yang ceria dan sedikit tomboy. Tak lama kemudian datanglah Lisa, gadis lugu yang lebih pendiam daripada Rose. Anak baik yang berkesan lembut, rendah hati dan memikat hati.
Kya baru saja mengenal mereka, tetapi tak terlihat tanda-tanda jika mereka baru saling kenal. Mereka tertawa bercanda seakan dunia milik mereka sendiri. Tapi tiba-tiba, Dukkk! Ada bola kaki yang mengenai kepala Kya, dan dengan seketika Rose langsung berteriak ke arah lemparan bola.
“Nexus!!” teriak Rose dengan tegas.
“Yo! Maaf ya!” katanya sambil bercanda kemudian berjalan mendekati Kya.
“Aduhh..” rintih Kya sambil memegang kepalanya.
“Maaf ya. Apa ada yang luka?” tanya Nexus seraya menatap Kya.
“Apa kamu pikir kata maaf cukup untuk membayar rasa sakitnya?” Rose yang tiba-tiba muncul langsung memukul pelan kepala Nexus dengan bola kaki.
“Hahahaha, cukuplah! Ohya, kamu murid baru itu kan? Salam kenal ya, Nexus Monteal” katanya sambil membantu Kya berdiri, baru kali ini Kya melihat senyuman lembut dari seorang cowok. Dalam sekejap dia sadar bahwa dirinya jatuh cinta pada Nexus.
Setelah kejadian itu Kya jadi sering memandang Nexus, tetapi keakraban Rose dan Nexus membuat Kya sedikit cemburu. Selang beberapa hari, Kya curhat kepada Lisa tentang Rose dan Nexus, tanpa sengaja Kya mengejek Rose karena rasa cemburu yang dia rasakan, dan na’asnya lagi Nexus mendengar hal itu. Nexus yang marah temannya di ejek menjadi sinis pada Kya, dia memang tidak memberitahu Rose ejekan itu tetapi dari hari ke hari Nexus berubah. Dia sangat terlihat membenci Kya. Semakin terpuruklah Kya melihat sifat Nexus, tetapi Kya juga mengakui kesalahannya, padahal karena Rose’lah Kya bisa mendapatkan teman.
Rasa bersalah yang mendalam terus Kya rasakan sampai terdengar kabar bahwa Rose juga menyukai Nexus. Betapa terguncangnya Kya mengetahui hal itu, dari situlah pertemanan Kya dan Rose menjadi semakin renggang. Walau Lisa masih berteman dengan Rose, tetapi Lisa lebih memilih mengakrabkan diri dengan Kya.
Sekarang, 2 tahun setelah itu Kya, Rose, Lisa dan Nexus di pertemukan lagi dalam satu kelas. Kabar bahwa Rose dan Nexus sudah menjalin hubungan pun telah basi dimakan waktu. Sekarang, Kya pun menjadi orang yang lebih tegar, sebenarnya dia masih sangat menyukai Nexus, tetapi demi menutupi perasaan itu, dia mulai berpacaran dengan Raye, orang yang menyukai Rose. Kya dan Raye saling membantu untuk urusan masing-masing, jadi mereka berpacaran hanya alibi untuk mendapatkan pujaan hati masing-masing. Saat istirahat siang, Raye selalu menghampiri kelas Kya.
“Princess ..” panggilnya sambil tersenyum ke arah Kya. Raye adalah anggota klub theater makanya dia bisa tersenyum layaknya seorang pangeran. Walau Kya tahu itu hanya acting belaka, tetapi Raye yang begitu dewasa selalu membuat Kya salah tingkah.
“Sekali lagi memanggilku ‘princess’ kita ga jadi makan siang bareng!” kata Kya dengan tegas.
“Hahaha, Iya-iya.” jawabnya singkat. Kemudian mereka pergi ke kantin belakang untuk makan siang. Hati mereka berdua sungguh perih saat tahu pujaan hati mereka bersama orang lain. Sejujurnya, Kya dan Raye saling mengerti satu sama lain, maka dari itu mereka bisa menjadi teman akrab.
Esoknya, Kya mengajak Rose bertemu di gedung olahraga. Kya menantang Rose untuk mendapatkan Nexus, dan tantangan itu pun mendapat sambutan hangat dari Rose. Rose tidak akan menyerah untuk mempertahankan Nexus itulah yang di pikirkan Kya, dan memang begitulah yang terjadi. Tetapi hal ini hanya akan menyakiti Kya, karena Kya tak ingin kehilangan Rose, juga. Saat sedang berdiskusi, semua hal yang mereka bicarakan di dengar oleh Nexus yang berdiri di depan pintu. Tentu saja Nexus lebih memilih Rose karena dia pacarnya. Di hadapan Kya, Nexus langsung menarik Rose pergi dan menatap Kya dengan tajam. Kemudian mereka menghilang dan Kya hanya bisa berdiri lemas.
Saat menarik Rose tiba-tiba Nexus berkata.
“Rose, aku sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani hal ini. Terlalu berat untukku.”
“…” Rose hanya terdiam. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berkecamuk di pikirannya. Kemudian dia berkata.
“Kumohon, satu minggu lagi. Bertahanlah satu minggu lagi. Berikan aku waktu untuk memastikannya!” tak ada jawaban dari Nexus, dia hanya menunduk dan mengangguk. Kemudian mereka berlalu, diam 1000 bahasa.
6 hari setelah itu, Rose tiba-tiba memanggil Kya dengan paksa.
“Apa yang membuatmu berpikir bahwa kau pantas untuk Nexus?” tanyanya sinis.
“Tidak ada. Aku tidak memiliki apapun satu-satunya yang kumiliki adalah ketulusan hatiku padanya. Aku tidak ingin menyerah mendapatkannya sebelum mengetahui hasil yang pasti” jawab Kya tegas.
“Padahal dari sikapnya saja kau pasti tahu bahwa dia benar-benar membencimu! Kurasa tidak ada guna kau mencoba merebutnya dariku. Lagipula bagaimana dengan Raye? Ingin langsung membuangnya saat kau mendapatkan Nexus?”
“Rose, kau tidak mengerti. Dia ..” sebelum sempat melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan tiba-tiba Raye datang.
“Ra.. Raye..?” sambil memanggil nama Raye, perlahan-lahan Kya tertunduk. Kemudian Raye maju dan memeluk Kya. Dengan senyum lembut kearah Rose dia pergi sambil menggandeng Kya. Tak lama dari situ Nexus pun datang, menghampiri Rose yang mematung sedih. Nexus memeluknya, diam tanpa mengatakan apapun. Sampai terdengar bisikan kecil Rose.
“Sial! Kita akhiri saja besok” kemudian Rose menangis dalam pelukan Nexus.
Keesokan harinya, kabar putusnya Nexus dan Rose menyebar bagaikan virus mematikan. Semua orang membicarakannya. Mungkin inilah berita yang paling ditunggu-tunggu oleh Kya dan Raye, orang yang pertama kali bahagia mendengar berita ini adalah Raye. Tetapi anehnya berita itu tidak berpengaruh pada Kya karena Lisa akan segera pindah ke Seara City. Hal paling berat kedua bagi Kya adalah kehilangan sahabat.
Yang mengagetkan Kya adalah sms Rose yang bilang bahwa menyerah untuk mendapatkan Nexus. Dia bilang sudah tidak mungkin mempertahankannya.
Diantara keramaian para penggosip karena berita Nexus dan Rose, Kya hanya terdiam. Dia melamun memikirkan Lisa. Raye yang tadinya senang pun jadi ikut terhanyut dalam kesedihan. Kemudian Rose memanggil Kya, di mata Kya dia meihat sosok Rose yang begitu tidak bersemangat, matanya merah membengkak dan mukanya pucat. Rose yang berbeda, Rose terlihat sangat lemah.
Mereka berjalan sesaat, kemudian duduk di kursi taman. Untuk beberapa menit mereka hanya terdiam, dan tiba-tiba Rose berbicara perlahan.
“Kya, mungkin berita itu akan membuatmu sangat senang jika Lisa tidak pindah” kata Rose tiba-tiba. Kya mengangguk seolah setuju.
“Kurasa kau harus tahu kebenaran” lanjutnya lagi.
“…” Kya hanya diam, menunggu Rose melanjutkan apa yg ingin dia bicarakan.
“Aku dan Nexus, sebenarnya tidak sungguhan berpacaran. Dia menolakku saat aku menyatakan rasa ini, dia menyukaimu.” kata Rose menjelaskan. Kya langsung tertegun kaget mendengarnya.
“A.. Ap..” sebelum sempat melanjutkan perkataannya, Rose langsung berkata.
“Aku membuat perjanjian dengannya, sebenarnya dia hanya marah karena kau mengejekku. Jujur, aku tidak marah, tapi dia tidak terima dengan ejekanmu padaku. Sehari setelahnya aku menyatakan rasa sukaku, tetapi dia menolakku. Saat dia menolakku, aku menyarankan dia untuk berpacaran denganku karena aku tahu dia masih marah padamu jadi aku ingin memberimu sedikit pelajaran. Dan rencana kami pun berhasil. Pada awalnya semuanya berjalan dengan lancar, sampai ..” belum selesai Rose menjelaskan, tiba-tiba ..
“Sampai kau mulai berpacaran dengan Raye” tiba-tiba sebuah suara muncul dari belakang.
“Nexus!!” dengan serempak Rose dan Kya menjerit melihat Nexus.
“Terima kasih, Rose. Maaf aku telah menyusahkanmu selama ini” kata Nexus perlahan.
“Apa benar kau menyukaiku, Nexus?” tanya Kya dengan ragu.
“Ya, aku sudah menyukaimu sejak awal kita bertemu, Kya. Tetapi rasa itu sedikit terkikis saat kau mengejek Rose. Rose teman terbaikku dan aku tidak suka bila ada yang mengejeknya. Tetapi setelah beberapa lama dalam sandiwara, saat memutuskan untuk berhenti, aku mendengar kau berpacaran dengan Raye, kau tahu tiba-tiba hati ini tercekat.” mendengar perkataan Nexus, muka Kya langsung terlihat merah padam, kebahagiaan tak bisa dia sembunyikan. Kemudian dia tersadar akan Rose, saat menoleh kearah Rose, Rose hanya tersenyum. Senyuman Rose yang lama tak Kya lihat. Kya langsung lari memeluk Rose dan mereka pun menangis bersama-sama.
Setelah itu mereka bertiga berjalan kembali ke kelas sambil tertawa riang. Rose dan Kya mulai membangun pertemanan mereka yang telah lama tenggelam.
Saat kembali ke kelas wajah Raye yang pucat karena mengkhawatirkan Kya, kini kembali normal saat melihat Kya tersenyum tanda dia baik-baik saja. Saat mengetahui cerita lengkapnya dari Kya, Raye langsung memeluknya, dan tersenyum lebar, berterima kasih pada Nexus karena telah menjaga Rose walau bukan pacar aslinya. Kemudian dia mencoba mendekati Rose dengan keahliannya.
Saat Raye sibuk dengan Rose, Kya juga sibuk dengan Nexus. Dia menceritakan bahwa Raye dia juga sebenarnya tidak benar-benar pacaran, mereka hanya saling membantu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Walau begitu kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena setelah pulang sekolah mereka harus mengantar Lisa ke bandara. Pertemuan terakhir dengan Lisa, entah kapan mereka akan bertemu lagi. Kepergian Lisa ke Seara City menjadi memori mereka yang takkan pernah hilang. Rose dan Kya tak henti menangis saat memeluk sahabatnya itu.
Lisa, mungkin dia jadi terabaikan karena urusan mereka sendiri-sendiri, tetapi Rose dan Kya takkan melupakan segala sesuatu yang pernah Lisa berikan pada mereka.
Kini Rose mulai membuka hatinya untuk laki-laki lain, dan Raye menjadi salah satu kandidatnya. Walau tak bisa langsung membuat Rose menyukainya tetapi Raye cukup senang bila bisa mendampingi Rose. Bahkan tidak henti-hentinya dia berterima kasih pada Nexus karena telah menjaga Rose.
Sedangkan Kya dan Nexus, ya, mereka bahagia dapat saling jujur satu sama lain. Setiap harinya mereka mempunyai kisah yang berbeda untuk dinikmati berdua.
Di Seara City, Lisa pun telah mendapat pujaan sendiri, seorang cowok yang sedikit berandal dengan sifat lembut. Kisah cinta 3 sahabat yang di hiasi dengan kebohongan. Kisah saat saling membohongi perasaan masing-masing menjadi bagian favorit Kya, Rose, Nexus dan Raye.
Perlu diakui bahwa kejujuran terhadap diri sendiri memang tidaklah mudah, tapi kejujuran terhadap diri sendiri itulah yang dapat membuat kita lebih menerima diri kita apa adanya.
Satu hal yang kutahu, “kejujuran yang membuat orang lain menangis lebih baik daripada kebohongan yang membuat orang lain tersenyum”.
Walau menyakitkan tapi kejujuran itulah yang menuntun kita pada kebahagiaan (tamat).

*cerita ini hanya fiksi, kesamaan cerita atau tokoh hanya kebetulan semata


Aw.. aw.. aw.. ga tau ini atas dasar apa buatnya >///<
Memalukan banget! Selamat membaca aja deh :)


Regards,
Kya
Baca SelengkapnyaKejujuran Selalu Jauh Lebih Baik Daripada Kebohongan

Luka Pengkhianatan


-LUKA PENGKHIATAN-

Kesendirian bukanlah hal besar bagi Sara, walau kesendirian itu terkadang menyakitinya, tetapi Sara bukanlah tipe orang yang suka bergantung kepada orang lain. Kadang-kadang dia merasa nyaman akan kesedirian itu. Temannya tidak terlalu banyak, mungkin dari seluruh teman yang dia miliki, dia hanya mempercayai tiga orang saja, yakni Hana, Hime dan Ringo.
Sejujurnya diantara mereka bertiga Sara sungguh kurang suka pada Ringo. Ringo tipe orang yang memiliki dua sisi, kadang-kadang sangat baik dan kadang-kadang sangat menyebalkan. Berbeda lagi dengan Hime, Hime tipe orang yang menganggap semua masalah itu biasa aja, ya, karena dia selalu menyimpannya sendiri. Hana, tipe yang bertolak belakang dengan Hime, daripada menyembunyikan atau menutupi masalahnya dia lebih suka jujur dan berterus terang apa adanya. Itulah yang kusukai dari Hana.
Sara selalu berbagi masalahnya ke Hime dan Hana terlebih dahulu daripada dengan Ringo. Sekarang, Sara sedang terjerat oleh tali cinta. Seseorang yang baru dekat dengannya membuat Sara jatuh hati. Raxe, begitulah orang-orang memanggilnya. Tidak ada yang spesial dari Raxe, tetapi ada sesuatu yang dimiliki Raxe yang membuat Sara tertarik.
Suatu hari, Raine membawa kabar yang mengejutkan Sara. Raine, teman dekat Raxe berkata bahwa Ringo memberitahu pada Raxe kalau Sara menyukainya. Sara yang diambang pintu percaya dan tidak percaya, langsung memainkan alis sambil menatap Ringo. Ternyata hal itu hanya membuatnya kesal tanpa meruntuhkan sedikit pun rasa percayanya pada Ringo-karena Sara tidak terlalu yakin kabar itu benar atau salah.
Tetapi sejak saat itu, Ringo menjadi akrab dengan Raxe-sejujurnya-tidak ada rasa cemburu yang Sara rasakan. Ini mungkin dikarenakan kepercayaan Sara pada Ringo yang masih sangat kuat. Tetapi semakin hari Ringo makin sering mengobrol dengan Raxe di kelas. Sara bukan tipe orang yang langsung berpikir negatif.
Tepat sehari setelahnya, dia mendapat kabar lagi dari Hana yang sama persis seperti apa yang Raine katakan sebelumnya. Mengetahui kebenaran yang ada Sara pun di penuhi amarah, tetapi dia tidak meluapkannya saat itu juga. Dia lebih memilih menjaga jarak dengan Ringo agar emosinya tidak keluar.
Di sekolah, Sara berusaha mati-matian menahan seluruh amarahnya. Ketika sampai dirumah di langsung menonaktifkan handphone’nya dan tidur. Sara dibangunkan oleh suara adiknya yang baru pulang dari tempat lesnya. Ketika Sara sudah yakin dia benar-benar sudah bangun, Sara dengan gesit mengaktifkan handphone’nya. Dia tidak terlalu terkejut keetika mendapat pesan dari Raxe. Seperti biasa dia membalas pesan itu.
Sekitar 2 jam kemudian, Raxe ingin mengajukan pertanyaan pada Sara, sejujurnya Sara langsung merasakan bad feeling dan apa yang dikhawatirkan Sara akibat ulah Ringo, benar-benar terjadi. Sara yang dikuasai oleh kepanikan, kembali diambil alih oleh amarahnya, Sara berpikir untuk tidak menjawabnya tetapi dengan pemikirannya yang sedikit lebih unggul dia langsung membalas pesan Raxe dengan nada ketus-mungkin karena amarahnya-kemudian Sara kembali menonaktifkan hanphone’nya. Setelah makan, Sara hanya membaca novelnya hingga dia mengantuk-novel bisa meredam amarahnya-walau hanya sesaat.
Keesokkan harinya, Sara sering sekali menghela nafas. Hime, Hana dan Raxe pun terkena getah karena rasa kesalnya pada Ringo. Meski dia tetap tersenyum pada Ringo dan yang lainnya-kecuali Raxe-Sara tetap belum sanggup untuk menatap mereka semua.
Perubahan mood Sara dirasakan juga oleh Karren dan Hime, mereka bilang bahwa Sara kelihatan lesu. Tetapi Sara hanya membalasnya dengan senyum kecil. Sesungghnya hari itu Sara sedang sangat terluka daripada marah, bukan karena kemungkinan kecil untuk mendapatkan Raxe, tetapi karena Ringo mengkhianati kepercayaannya. Sara mungkin membenci Ringo, tapi Sara yakin rasa benci itu hanyalah sementara.
Sara manangis dalam kesendirian dan keramaian kelas, Sara menangis bukan karena tahu akan kehilangan Raxe, tetapi dia menangis karena rasa sakit dari luka itu tak kunjung sembuh. Lukanya yang tidak mengeluarkan darah itu masih sangat perih.
Hal yang bisa membuatnya bertahan sendirian bukanlah amarah tetapi rasa sakit dan rasa perih yang dia rasanya. Hari itu, Sara telah menjadi Sara yang lain. Dia menjadi Sara yang bisa mengendalikan seluruh perasaannya. Dia menjadi seorang Sara yang tenang dan pendiam.
Entahlah apa yang akan terjadi pada persahabatannya dengan Ringo. Tetapi satu hal yang baru Sara sadari, tidak seharusnya dia mempercayai seseorang 100%-kecuali dirinya sendiri-dalam situasi sesulit atau sesedih apapun.
Ada dua jalan yang bisa Sara ambil, pertama, tetap seperti ini, tetap berkomunikasi tetapi sedikit menjaga jarak atau kedua, dia bisa berpura-pura apa yang telah terjadi itu tidak pernah terjadi sama sekali. Mungkin untuk saat ini Sara akan memilih jalannya yang pertama.
Jalan manapun yang akan dipilih Sara, sebanyak apapun Sara terjatuh aku yakin Sara pasti bisa melewatinya, karena Sara adalah aku. (Tamat).

*cerita ini hanya fiksi, kesamaan cerita atau tokoh hanya kebetulan semata


Cerpen ini dibuat saat lagi marah ma seseorang yang dengan sengajanya open secretku ke orang yg bersangkutan -,-
Tapi udah lama damai kok ma orangnya :D
Haha, enjoy ya!


Regards,
Kya
Baca SelengkapnyaLuka Pengkhianatan

Kebohongan Sang Butler


-KEBOHONGAN SANG BUTLER-

Dahulu, ada seorang Putri yang tinggal di istana tengah air. Istana itu berdiri di tengah-tengah danau yang sangat indah, di kelilingi keramaian pusat kota yang diselingi pepohonan. Di istana Putri selalu merasa kesepian walau 7 orang temannya selalu datang untuk bermain.
Putri yang selalu terlihat sedih membuat khawatir teman-temannya. Saat ditanya Putri hanya diam dan tersenyum. Sampai suatu hari dataglah seorang pemuda bernama Hazley Arck. Awalnya Putri tidak berminat dengannya, tetapi setelah mengenalnya Putri merasa nyaman saat bersamanya. Pada akhirnya Hazley pun di angkat menjadi Butler khusus Putri.
Hazley orang yang ramah dan berwibawa, karismanya yang kuat dan sifatnya yang dewasa membuat Putri menyukainya. Pertemuannya dengan Hazley membuat teman-temannya merasa lega karena Putri menjadi lebih ceria.
Walau teman-teman Putri tidak terlalu mengenal Hazley, tetapi mereka sangat yakin bahwa Hazley orang yang sangat baik. Hari demi hari pun berlalu, Putri dan Hazley menjadi sangat dekat dan akrab. Putri memiliki tunangan dari Pangeran negeri tetangga bernama Rafael Yathror. Putri tahu Rafael benar-benar tulus mencintainya, dan Putri pun juga menyayanginya, tetapi pertemuannya dengan Hazley membuat Putri menjadi goyah. Rafael dan Hazley adalah orang yang sangat berbeda, mereka sangat berlawanan, tetapi Putri menyayangi mereka berdua, dan tak ingin melepas mereka.
Saat sepi, Putri sering sekali memandangi kota dari jendela kamarnya, membuka lebar jendela itu sambil memandang langit kemudian menikmati kue-kue kering dan teh yang selalu di sediakan Hazley saat Tea Time.
“Tuan..” kata Putri perlahan. Hazley hanya diam dan memandang heran kepada Putri.
“Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan kata “Tuan” , sebagai rasa hormatku padamu” lanjutnya dengan nada datar.
“Putri? Apa maksud Anda?” tanya Hazley heran. Tetapi Putri tidak menjawab apapun, dia hanya diam sambil memandang langit biru yang berhiaskan awan-awan putih. Dalam keheningan itu, tiba-tiba seorang prajurit datang.
“Permisi Yang Mulia, ada tamu yang datang untuk Tuan Arck.” kata prajurit itu kemudian keluar dari ruangan dengan tenang.
“Saya permisi sebentar, Putri” bisik Hazley kepada Putri, kemudian melepaskan sarung tangannya dan pergi. Putri yang penasaran dengan tamu itu pun mengikuti Hazley dari belakang, Putri menyuruh semua prajurit diam jika dia mengikuti Hazley.
Tiba-tiba Putri tertegun melihat seorang gadis cantik nan manis yang sedang berbicara dengan Hazley. Dia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya, mereka yang terlihat sangat akrab membuat sesak hati sang Putri.
Dengan penuh keberanian Putri berjalan maju dengan anggun, mendekati mereka secara perlahan sambil mencoba tenang. Sadar dengan kehadiran seseorang, Hazley langsung menoleh kebelakang.
“Putri?” tanyanya dengan muka terkejut.
“Ya, Tuan?” jawab Putri dengan nada setenang mungkin.
“Apa yang Anda lakukan disini? Bukankah sebaiknya Anda menunggu di kamar?” tanyanya sambil melangkah mendekati Putri.
“Aku bosan di kamar. Saat sedang melihat-lihat aku tak sengaja bertemu denganmu. Berniat mengagetkanmu, tetapi kamu telah menoleh duluan” jawabnya pura-pura kesal.
“Lalu, siapa dia, Tuan?” lanjut Putri.
“Ah, ya. Dia teman saya, Putri. Namanya Vanya Drawner.” jelas Hazley singkat. Kemudian Putri berjalan mendekati Vanya dan menatapnya.
“Kamu manis sekali. Seperti indahnya bulir-bulir putih pada gula” kata Putri sambil tersenyum. Walau tersenyum dia merasakan hal aneh, rasanya sungguh sesak di dada. Lebih sesak daripada saat dia memakai korset ketat. Tetapi seperih apapun yang dia rasakan, Putri berusaha untuk tetap tenang.
“Putri bisa saja. Jika dibandingkan dengan Putri, saya masih belum ada apa-apanya.” jawabnya sambil tersipu
“Bukankah tidak baik jika membandingkan diri sendiri dengan orang lain? Benarkan, Tuan?” tanya Putri dengan nada menyinggung.
“Apa kamu tahu, seluruh putri-putri Raja yang pernah kesini, tidak pernah mendapatkan pujian dariku. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki kecantikan dalam hati mereka. Yang mereka inginkan hanyalah harta dan kekayaan. Dan dirimu benar-benar cantik luar dan dalam” lanjutnya sedikit ketus tetapi sopan.
“Putri juga seperti itu” kata Hazley tiba-tiba.
“Iya. Putri orang yang sungguh cantik. Tidak hanya dari luar, tetapi di hatinya pun begitu. Saya sangat yakin itu” sambung Vanya dengan senyum lembut.
“TIDAK! Aku tidak sebaik yang kalian kira. Vanya, sebaiknya kamu pulang, sebentar lagi gelap. Tuan, tolong bersihkan kamar, remah-remah roti mengotori mejaku” kata Putri tegas kemudian pergi dengan anggun.
“Dia tidak terbiasa dengan orang asing” jelas Hazley sesaat, kemudian megantarkan Vanya sampai di depan gerbang.
Saat malam tiba Putri tidak berkata apapun. Dia hanya diam dan melamun di kamarnya. Hazley sedikit bingung dengan perubahan sikap Putri. Saat bertanya, Putri hanya diam dan tersenyum kemudian bilang dia ingin tidur.
Saat Putri terlelap, Hazley diam-diam masuk ke kamarnya. Hazley terkejut melihat Putri tertidur sambil menangis, kemudian dia mengusap air mata yang mengalir dan mengelus kepala sang Putri dengan perlahan. 
“Apa yang sebenarnya terjadi, Putri? Saya benci melihatmu seperti ini.” bisiknya perlahan, kemudian pergi meninggalkan kamar. Putri yang menyadari kedatangan Hazley, terus menangis dalam keheningan. Putri sendiri tidak tahu mengapa dia menangis, dia hanya merasa hatinya sungguh perih bagai tercabik-cabik.
Esok harinya, Hazley menemani Putri seperti biasa, tetapi hari itu sungguh berbeda karena sejak pagi Putri tidak bercerita apapun tentang moodnya hari itu. Ataupun tentang sesuatu yang dia alami. Putri hanya diam, dan hanya berbicara saat sedang membutuhkan sesuatu.
Saat mereka sedang berjalan-jalan di kebun mawar, Putri melihat Vanya yang sedang menunggu di gerbang. Tanpa berkata apapun Putri kembali ke istana dan kembali ke kamar. Dia hanya bilang ingin istirahat di kamar sendirian pada Hazley. Dan Hazley pun hanya dapat mengangguk.
Dari jendela kamar, Putri dapat melihat Vanya dan Hazley berbicara sambil bercanda. Keakraban mereka lagi-lagi membuat Putri merasa tersakiti. Melihat mereka yang sungguh akrab, Putri langsung naik ke tempat tidurnya dan tertidur karena kelelahan.
Saat pagi menjelang, tercium wangi roti panggang berselai cokelat seperti kesukaan Putri.
“Pagi, Putri. Sepertinya Anda sangat kelelahan ya? Anda tertidur sangat nyenyak” Putri menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata Hazley sedang menuangkan susu putih ke dalam cangkir.
“Pagi, juga” jawab Putri singkat kemudian menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Hazley berjalan mendekati Putri dan menarik selimut.
“Putri tidak boleh jadi orang yang pemalas. Kalau Putri tidak sarapan, nanti Putri bisa sakit” kata Hazley dengan nada khawatir.
“Aku tidak lapar” jawabnya singkat sambil menarik selimutnya lagi. Hazley yang sedikit kesal langsung mengangkat Putri beserta selimutnya ke meja makan.
“Makanlah walau hanya sedikit. Atau perlu saya suapi, Putri?” kata Hazley sambil memandang wajah Putri.
“Baiklah. Tetapi, Tuan.. bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Putri sambil menunduk.
“Tentu saja, apapun untuk Putri” jawab Hazley sambil mengelus kepala Putri.
“Apa.. Apa Tuan menyukai Vanya?” tanya Putri ragu.
“Aa.. Putri?” Hazley yang bingung berpikir sejenak dan menenangkan diri.
“Kami tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas teman, tidak lebih” lanjut Hazley. Setelah mendengar kata-kata Hazley, senyum Putri mekar kembali. Tetapi keraguan masih membayangi hatinya.
“Benarkah? Aku mau Tuan jujur” tanya Putri lagi. Kali ini Hazley hanya tersenyum dan mengangguk. Dan senyuman itu membuatnya yakin.
Saat hari menjelang siang, Vanya datang ke istana. Putri yang melihat Vanya dari ruang bacanya tiba-tiba terkejut dengan sifat Hazley yang berbeda. Putri percaya pada Hazley, tetapi tatapan berbeda Hazley kepada Vanya membuat Putri ragu lagi. Rasa perih di hatipun terasa lebih menyakitkan. 
Seminggu setelah penderitaan itu berlangsung, Putri harus menemui Rafael untuk pertemuan kerajaan. Putri menyuruh Hazley untuk tetap tinggal di istana karena mungkin Vanya akan datang. Sebenarnya itu berlawanan dengan hatinya tetapi dia terpaksa melakukannya tanpa alasan apapun. Sekarang, dia akan terpisah dari Hazley selama 2 minggu.
Di hari terakhir sebelum Putri pergi dia sempat bertanya pada Vanya mengenai perasaannya pada Hazley, hasilnya sama. Vanya bilang bahwa mereka tidak ada hubungan apa-apa, mereka hanyalah teman. Hal itu membuat Putri benar-benar sangat lega. Saat mengetahui hal itu, Putri langsung memanggil Hazley dan bilang bahwa sekarang dia tidak ragu lagi. Putri mengakui bahwa mereka hanyalah teman tidak lebih. Setelah semuanya selesai, Putri pun dapat pergi dengan hati lega.
Setelah 2 minggu berlalu, akhirnya dia kembali ke istananya. Sungguh hari-hari yang sangat melelahkan. Walau lelah tetapi dia senang karena dia tidak melihat perubahan dari diri Hazley. Hazley terlihat sama saat dia meninggalkannya.
Hari-hari yang biasa pun telah kembali, Putri kembali ceria, semuanya kembali normal. Sampai tiba-tiba Putri merasa terpuruk dan selalu berpikir untuk bunuh diri. Melihat Putri yang seperti itu, Hazley merasa sedih.
“Putri, kenapa Anda selalu berpikir seperti itu?” tanya Hazley dengan nada khawatir.
“Entahlah. Aku tidak tahu” jawab Putri singkat.
“Mungkin teman saya bisa membantu. Aa, sebenarnya bukan teman lagi sih” kata Hazley gugup.
“Ee? Bukan teman lagi? Siapa?”tanya Putri penasaran.
“Vanya. Dia pernah mengalami hal yang sama dengan Putri” kata Hazley singkat.
“Vanya? Kenapa kalian bukan teman lagi? Apa kalian sudah menjalin hubungan?” tanya Putri bercanda.
“Putri pura-pura tidak tahu ya?!” jawab Hazley tersipu.
“Hee? Kalian benar-benar pacaran?” tanya Putri khawatir.
“Hehehe, Iya.” Jawab Hazley dengan malu-malu. Deg! Tiba-tiba Putri tersentak kaget dalam hati, hatinya bagai terkoyak menjadi 1000 serpihan kertas.
“Dasar! Berani sekali kalian membohongiku! Hahaha” Putri tetap tersenyum walau hatinya hancur. Dia tetap bersikap tenang.
“Ya. Maaf” jawab Hazley singkat. Tetapi saat malam tiba Putri menangis terus menerus. Dia sedih bukan karena mereka telah menjalin hubungan, Putri sangat sedih karena kebohongan yang mereka lakukan. Kebohongan itu sungguh menyakitinya.
“Kenapa? Kenapa aku bisa mempercayainya?” desah Putri sambil tersedu-sedu.
“Sudah cukup! Kalian sudah terlalu dalam menyakitiku. Aku sudah tidak sanggup lagi!” lanjutnya sambil terus menangis. Tangisan Putri terdengar oleh Hazley yang sedang berkeliling.
“Putri?!” panggilnya saat melihat Putri sedang menangis.
“Ada apa, Putri?” tanyanya dengan nada khawatir. Kemudian Putri berlari dan memeluk Hazley dengan kuat. Hazley membalas pelukan itu dengan kuat juga. Semalaman Putri tak henti menangis. Pada akhirnya dia tertidur karena kelelahan menangis.
Esok harinya, saat dia membuka mata, orang yang pertama yang dia lihat adalah wajah Hazley yang pucat karena khawatir. Tetapi Putri hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Berkali-kali Hazley bertanya, Putri hanya diam tanpa bicara satu kata pun.
“Apa Tuan tahu bahwa aku menyukaimu?” tanya Putri dengan nada ingin menangis. Hazley yang terkejut tidak bisa berkata apa-apa lagi. Melihat Hazley yang seperti itu, Putri hanya tersenyum sendu.
“Terima kasih atas kebohonganmu. Tega sekali Tuan membohongiku hanya untuk menjaga perasaan Tuan. Vanya juga begitu! Hahahaha, terima kasih ya” kata Putri sambil tertawa. Hazley hanya menunduk menyesali ketidaktahuannya.
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Tetapi Tuan, aku sudah tidak kuat bila Tuan ada di sekelilingku!” kata Putri sambil bergetar.
“Aku akan memindahkan Tuan ke istana tempat Ayahanda dan Ibunda. Aku tidak bisa lagi menerima, Tuan. Aa, Bukan. Maaf, aku sudah tidak bisa lagi menerima Hazley menjadi Butlerku” lanjut Putri sambil berlinang air mata. Hazley hanya mengangguk dan pergi. Saat pintu tertutup Putri langsung melempar bantal ke arah pintu.
“Hazley pembohong! Pembohong besar! PEMBOHONG!” desah Putri sambil berderai air mata. Hazley yang masih berada di depan pintu hanya diam mematung dan tanpa sadar juga meneteskan air matanya.
“Bukankah Butler telah bersumpah setia kepada majikannya? Tetapi kenapa dia membohongiku?” lanjut Putri sambil tersedu-sedu.
“Haha, tak ku sangka akan sangat menyakitinya. Maaf, Maaf Putri. Maafkan Butlermu yang bodoh ini” desah Hazley kemudian pergi.
Sekarang Putri tidak pernah mau memiliki Butler. Karena kebohongan Hazley’lah yang membuat Putri membenci semua Butler. Kebohongan sang Butler yang takkan pernah dia lupakan. (Tamat).

*cerita ini hanya fiksi, kesamaan cerita atau tokoh hanya kebetulan semata


Hahaha, cerpen yang dibuat saat lagi tergila-gila ma seseorang, alay banget ya?
Kelas 2 SMA buatnya klo ga salah -v-
Jya nee!


Regards,
Kya
Baca SelengkapnyaKebohongan Sang Butler

Sebuah Tali yang Terputus


-SEBUAH TALI YANG TERPUTUS-

Jauh disebuah kota yang tidak pernah kita ketahui, terdapat sebuah kota bernama Pfalzgraf. Disanalah tempat Vellen Quietshct dan Keine Ausgezeichnet tinggal. Dua orang sahabat yang sudah berteman sejak kecil.
Di kota tersebut terdapat taman indah yang bernama Zweite Kwint. Saat mereka masih kecil, mereka sering sekali mengunjungi tempat itu.
Sekarang mereka sudah berusia 14 tahun. Sudah saatnya mereka untuk mengurangi waktu bermain dan harus lebih banyak belajar. Biasanya sepulang sekolah, Vellen dan Keine selalu menyempatkan diri datang ke sana. Ketika Keine sedang memandangi langit biru yang luas, Vellen mendekatinya, “Aku menyukai Darf” katanya singkat. Keine hanya tersenyum sambil terus memandang langit biru yang membentang. “Dia anak yang baik, kurasa akan cocok untukmu,” jawab Keine sambil memandang Vellen. “Rahasiamu aman jika bersamaku,” sambungnya lagi. Kata-kata itu Vellen balas dengan senyuman pertanda dia tahu hal itu.
Beberapa hari kemudian, Vellen melihat Keine mulai mendekati Darf. Vellen merasa bahwa Keine telah mengkhianatinya, tetapi entah kenapa dia tidak dapat membenci Keine. Keine yang jadi sangat dekat dengan Darf, membuat Vellen merasa cemburu. Teman-teman yang kurang menyukai Keine pun mulai mendekati Vellen untuk mempengaruhinya, tetapi Vellen bukan orang yang suka mengkhianati teman, apapun kejahatan temannya Vellen akan selalu bersamanya.
Ketika pulang sekolah Vellen mendekati Keine dengan wajah kesal. “Apa Keine menyukai Darf?” tanya Vellen dingin. Keine tersenyum dan menggenggam tangannya. “Seorang sahabat tidak akan pernah mengkhianati sahabatnya,” kata Keine dengan wajah yakin. Vellen percaya akan hal itu dan akan selalu percaya. Kemudian Vellen mengajak Keine ke rumahnya untuk mengerjakan PR bersama, tetapi Keine tidak bisa datang karena ada sesuatu yang harus dia lakukan. Vellen menganguk dan tersenyum.
Esok harinya, Vellen disuruh ibunya membeli sesuatu di toko. Ketika akan pulang, Vellen kaget melihat Keine bersama Darf di sebuah cafe. Mereka mengobrol seperti sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. “Padahal aku sangat mempercayaimu, Keine!?” katanya sambil berbisik, kemudian lari menuju rumah.
Esoknya, Vellen bertanya kepada Keine. “Bukankah ada yang harus kamu lakukan kemarin? Lalu mengapa kamu menemui Darf?” tanya Vellen dingin. “Kalian terlihat sangat akrab!” lanjutnya sinis. Keine kaget mendengar penjelasan Vellen. “Akan kuberitahu kamu besok!” jawabnya singkat, tanda tidak ingin memperpanjang masalah.
Esok harinya saat akan berangkat sekolah, Vellen kaget karena Keine telah menunggunya di depan rumah. “Ini untukmu!” kata Keine sambil menyerahkan sebuah surat kepada Vellen. “Aku yakin kamu akan menyukainya,” kata Keine sambil tersenyum dan pergi berlalu, tetapi Vellen hanya meremuk surat itu dan memasukkannya kedalam kantung.
Saat tiba di sekolah dia dikagetkan dengan berita yang sangat menyedihkan. Keine mengalami kecelakaan hebat dan pergi ke tempat yang tidak akan mungkin Vellen gapai. Keine kehilangan banyak darah dan tidak dapat bertahan. Vellen merasa dirinya tidak berguna karena tidak bisa menjaga sahabatnya sendiri.
Vellen yang shock akan kejadian itu merasa lebih baik jika dirinya juga ikut mati. Dia pun mencoba melompat dari jembatan penyeberangan, tetapi hati dan pikirannya merasa takut. Kemudian Vellen ingat akan surat yang diberikan oleh Keine. Dia membuka surat beramplop pink itu dengan tangan bergetar, kemudian membacanya. Setelah membaca surat itu, air mata mulai menetes dari pelupuk matanya.
Di surat tertulis tanda maaf Keine karena dia telah mendekati Darf, tetapi sebenarnya Keine hanya ingin tahu apakah instingnya yang mengatakan bahwa Darf juga menyukai Vellen itu benar? Dan akhirnya dia mendapat jawabannya sehari sebelum kepergiannya dan ingin memberitahu kabar baik itu kepada Vellen secepat mungkin, tetapi sayang takdir berkata lain. Vellen menyesal telah berprasangka buruk kepadanya. Dia juga sangat menyesal akan ketidaktahuannya tentang niat baik Keine.
Vellen tidak akan pernah melupakan Keine, sahabat setianya. Tali persahabatan yang telah dirajut sejak kecil, kini telah putus saat Keine pergi, tetapi tali itu akan terus abadi, di dalam hati Vellen untuk selamanya. (Tamat).

*cerita ini hanya fiksi, kesamaan cerita atau tokoh hanya kebetulan semata

Lupa kapan cerpen ini dibuat yang jelas ide ini dari komik yang kubaca, bukan pure ideku :)
Enjoy!


Regards,
Kya
Baca SelengkapnyaSebuah Tali yang Terputus

Senin, 17 Juni 2013

Kisah si Hati



Ini cerpen yang pernah sedikit ku bahas di Sejarah Blog-blogku. Dibuat saat daku kelas 1 SMA, dari judulnya udah ketebak kan tentang apa?

Ini di buat saat masa-masa galauku tentang cowok yang ada disekitarku.
Sebagian dari mereka masih berada dalam jangkauanku, sebagian lagi menjalani hidupnya tanpa melibatkan daku di dalamnya ^_^

*cerita ini hanya fiksi, kesamaan cerita atau tokoh hanya kebetulan semata


-KISAH SI HATI-

    Bagai kuda yang berlari kencang, seorang Pemburu yang pernah bersinggah di penginapan Si Hati pun telah pergi. Kepergian sang Pemburu digantikan oleh datangnya tiga orang Ksatria yang juga akan menginap. Ksatria Pertama, orang yang aneh dan jahil. Si Hati pun jatuh cinta padanya tetapi rasa cintanya pada sang Pemburu lebih besar daripada kepada sang Ksatria pertama. Ksatria Kedua, orang yang lucu dan baik. Si Hati sempat tertarik padanya tetapi teman Si Hati bilang bahwa dia telah memiliki kekasih. Dan Ksatria Ketiga, orang yang manis dan sangat baik. Dia menghibur Si Hati saat sedang sedih ataupun marah, tetapi sayang banyak isu yang beredar bahwa dia seorang playboy. Si Hati yang kecewa hanya dapat memendam perasaannya dalam-dalam.

    Kurang lebih tiga hari kemudian ketiga Ksatria pun pergi untuk melanjutkan perjalanan mereka. Saat mereka pergi, tiba-tiba datanglah seorang Cendekiawan. Dia orang yang sedikit kasar, blak-blakan dan bicaranya pedas, walau begitu dia selalu melakukan hal dengan niat yang baik. Si Hati tertarik dengan sang Cendekiawan itu, tapi Si Hati tak ingin lagi bermain dengan cinta. Dia putuskan untuk tak mengganggap sang Cendekiawan lebih dari seorang teman. Telah lama waktu berlalu, tetapi sang Cendekiawan tak kunjung pergi. Anehnya, Si Hati tak keberatan akan hal itu, justru setiap dekat dengannya si hati merasa bahagia dan berdebar. Si Hati pun berpikir apakah ini cinta? Tetapi Si Hati yang bingung, selalu saja menepis perasaan itu.

    Suatu ketika datanglah seorang Panglima Perang yang terluka. Si Hati yang merasa iba kepadanya, meminta sang Cendekiawan untuk mengobati luka Panglima itu. Sang Cendekiawan terus menggerutu tetapi tangannya tetap saja bergerak untuk mengobati luka Panglima. Ketika Panglima berangsur-angsur pulih, sang Cendekiawan pergi dari penginapan untuk melanjutkan perjalanan. Si Hati kaget luar biasa karena kepergian sang Cendekiawan yang sangat tiba-tiba. Seminggu telah berlalu tetapi rasa sedih itu tak kunjung hilang. Melihat hal itu Panglima segera menyuruh Si Hati untuk pergi mengejar sang Cendekiawan. Panglima juga berjanji tidak akan pernah pergi dari penginapan hingga Si Hati kembali.

    Dengan senyum kecil, Si Hati memeluk sang Panglima dan membisikkan kata “Terima Kasih” kepadanya. Si Hati pun pergi dengan sebuah kapal kecil milik neneknya yang diwariskan padanya. Awalnya Si Hati bingung akan pergi kemana karena dia tak pernah berpergian lagi semenjak neneknya meninggal. Panglima yang masih menyimpan peta, memberikan petanya pada Si Hati dan menjelaskan sedikit tentang bahaya yang harus Si Hati lewati. Setelah mencerna apa yang Panglima jelaskan, Si Hati pun pergi dengan terus melambaikan tangannya pada Panglima itu.

    Si Hati berlayar melewati anak sungai, sungai, dan lautan. Si Hati tahu apa yang dia cari adalah sesuatu yang sulit digapai. Dia sedang memikirkan alasan yang tepat ketika sang cendekiawan bertanya “mengapa dia mencarinya?”. Saat sedang melamun, Si Hati tidak memperhatikan angin yang bertiup kencang dan apa yang sedang menunggu kapalnya didepan sana. Tiba-tiba, “Dumm..” Kapal itu menabrak sebuah batu, dan di dasar kapal terdapat lubang kecil, membuat air sedikit demi sedikit masuk kedalam kapal. Untungnya, dia sampai lebih dulu kepinggir sebuah hutan sebelum kapalnya tenggelam.

    Saat frustasi karena kapalnya rusak, tiba-tiba Si Hati mendengar deru kaki kuda yang berlari kearahnya. Betapa kagetnya dia, ternyata orang yang menunggangi kuda itu adalah sang Pemburu. Pemburu yang masih mengenali wajah Si Hati langsung mengajaknya ke pondok yang dia buat tidak jauh dari situ. Sang Pemburu bertanya apa yang Si Hati lakukan disana. Si Hati hanya bilang bahwa dia sedang mencari seorang Cendekiawan tetapi kapalnya menabrak batu dan rusak. Pemburu yang mendengar hal itu dengan segera menolong Si Hati memperbaiki kapalnya sebagai balas jasa karena Pemburu pernah menginap di penginapannya yang nyaman.
    Tanpa sadar satu minggu telah berlalu, ketika dia merenung dia baru ingat harus mencari sang Cendekiawan. Tanpa berpamitan dengan sang Pemburu, Si Hati langsung pergi berlayar. Saat di tengah lautan dia baru sadar telah meninggalkan petanya di pondok sang Pemburu. Si Hati yang tak tahu arah terus saja berlayar, tanpa sadar dia telah memasuki wilayah para Perompak dan Bajak Laut. Tanpa ampun kapal Si Hati yang asing, langsung di ledakkan dengan lima sampai enam buah meriam dari empat kapal Bajak Laut yang berlabuh. Kapal itu sekarang telah menjadi puing dan jejak Si Hati pun menghilang. Takdir telah memisahkan Si Hati dengan orang yang dia sayangi. Kini Si Hati telah menjadi debu di tengah lautan. Kepergian Si Hati juga dirasakan oleh orang-orang yang dia sayangi. Di penginapan tanpa sengaja Panglima menjatuhkan bingkai foto Si Hati. Dari arah selatan nampak sang Pemburu yang terdiam menyaksikan eksekusi Si Hati yang tragis. Dari arah barat nampak tiga orang Ksatria sedang berduka. Dan di suatu tempat yang tak diketahui seorang Cendekiawan sedang menangis sambil bergumam “Selamat jalan”. (Tamat).

Jadi? Gimana? Ketauan banget yang buatnya masih amatir ya xD
Aku suka segi cerita karena ngena beudz di daku, cuma aku agak terganggu ma cara penuturanku. kemampuanku masih sangat perlu sekali diasah lagi :)
Fufufu.. see you!


Regards,
Kya
Baca SelengkapnyaKisah si Hati